Truk Tronton Muat Sembako Dibajak

Kompas.com - 23/01/2009, 04:05 WIB

CENGKARENG, KAMIS - Sebuah truk tronton bermuatan sembilan bahan kebutuhan pokok senilai Rp 800 juta dibajak kawanan perampok bersenjata tajam, Selasa (20/1) malam. Para pelaku terlebih dulu melumpuhkan sopir dan kernet truk, lalu meninggalkannya dalam keadaan tangan terikat di tepi jalan di Kecamatan Sukra, Indramayu, Jawa Barat.

Kanit Reskrim Polsektro Cengkareng, Jakarta Barat, Iptu R Manurung, Kamis (22/1) siang, mengatakan, setelah melumpuhkan sopir dan kernetnya, kawanan ini langsung kabur ke wilayah Cengkareng. Dikatakan Manurung, Nanang (sopir) dan Rudi (kernet) berusaha keras membuka ikatan di tubuh mereka.

Setelah berhasil, mereka lantas menuju ke Mapolsek Sukra untuk melaporkan kejadian ini. "Setelah lapor, mereka menghubungi pemilik perusahaan ekspedisi tempat mereka bekerja," kata Manurung.

Alex, pemilik PT Megaraya Transindo, terkejut ketika mendengar laporan dari dua karyawannya itu. Dia lantas mengontak balik petugas Polsek Sukra dan mengatakan truk yang dimilikinya dilengkapi dengan alat GPS (global positioning system), alat pelacak lokasi melalui satelit.

"Melalui alat itu bisa diketahui, lokasi truk ternyata berada di wilayah Cengkareng. Tepatnya di Jalan Durikosambi. Kami lantas bergerak menuju titik yang ditunjukkan GPS. Ternyata, truk itu ada di bengkel Cahaya Motor," kata Manurung.

Indra, pemilik bengkel, terkaget-kaget ketika ada polisi yang datang ke bengkelnya. "Setelah diberi penjelasan saya baru tahu jika kedatangan polisi karena ada truk rampokan yang parkir di bengkel saya," katanya.

Indra menuturkan, truk itu dibawa Budi, warga Taman Palm, Cengkareng. "Dia meminta saya untuk mengubah warna cat mobil dari kuning menjadi biru," ujarnya.

Saat polisi datang ke bengkel itu, separuh truk sudah berubah warna. Nomor polisi truk itu juga sudah dicopot. Polisi lalu meminta Indra untuk menghubungi Budi untuk datang ke bengkel. "Setelah dihubungi, Budi langsung datang bersama dua rekannya, Suroto dan Ong Terry," kata Manurung.

Begitu mereka tiba di bengkel, polisi langsung meringkusnya. Ketiganya mengakui perbuatannya. Mereka mengatakan, masih ada dua orang lagi, yaitu A Liong dan Jaro, yang terlibat. A Liong diduga penadah barang rampokan mereka.

Sementara itu, sebuah truk yang mengangkut 25,5 ton besi raib dari tempatnya, di kawasan Simprug, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (22/1). Menurut Budiarjo (27), sopir, truk itu raib saat ditinggal pergi ke wartel untuk menelepon bosnya.

Belakangan diketahui, truk bermuatan besi dari Semarang itu diderek petugas derek tanpa sepengetahuan awak truk. Arefa (59), sopir mobil derek,mengakui telah memindahkan truk. Namun dikatakan, awak truk sudah mengetahui kendaraannya diderek. (tos/yos)

Global Positioning System (GPS) adalah satu-satunya sistem navigasi satelit yang berfungsi dengan baik. Sistem ini menggunakan 24 satelit yang mengirimkan sinyal gelombang mikro ke Bumi. 

Sinyal ini diterima oleh alat penerima di permukaan, dan digunakan untuk menentukan posisi, kecepatan, arah, dan waktu. Sistem ini dikembangkan oleh Departemen Pertahanan AS. Nama lengkapnya : NAVSTAR GPS.

Sumber: Wikipedia.org

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau